Setiap Orang Berbeda, Salah Siapa?
Perbedaan
adalah suatu hal yang dimiliki oleh setiap diri individu, karena masing-masing
dari individu memiliki perbedaan, maka mereka memiliki pula karakteristiknya
masing-masing sesuai dengan pembawaannya. Ada orang yang pintar dalam segala
bidang, namun dalam perhitungan ia tidak tahu-menahu. Ada orang yang bodoh
dalam kognitifnya, namun ia adalah seorang atlit. Ada orang yang pintar dalam
matematika, namun ia tidak bisa sama sekali untuk menggambar (keterampilan). Dalam
beberapa fakta tersebut, sudah diketahui bahwa setiap individu memiliki
kemampuan yang berbeda-beda, ia mungkin kurang dalam satu bidang, namun ia
terampil dalam bidang yang lain. Hal itu dikarenakan setiap manusia sudah
ditakdirkan oleh Allah SWT untuk memiliki setiap karakter yang berbeda antara
satu orang dengan orang lainnya.
Untuk
itu janganlah menjadi orang yang sombong, karena ia memang ahli dalam bidang
tersebut, namun belum tentu ia ahli dalam bidang yang lain. Manusia diciptakan
seperti itu karena memang tidak ada orang yang sempurna yang dapat melakukan
segala hal, meskipun ia dapat melakukan segala hal, mustahil ia mampu
melakukannya secara sempurna. Lalu mengapa ada orang sombong?
Allah
SWT tidak memperbolehkan umatnya untuk berbuat sombong, karena apa yang
dimiliki umatnya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kekuasaannya.
Untuk itu, mengapa bisa ada orang yang berlaku sombong? Apakah ia tidak
mendapatkan pendidikan yang tepat, sehingga ia bisa berlaku seperti itu,
sedangkan kriteria orang yang berpendidikan adalah, tidak sombong dan mau
berbagi dengan sesama tentang apa yang ia ketahui. Lalu ini menjadi salah
siapa?
Peran
orang tua, guru maupun sifat dari anak tersebut menjadi pengaruh yang sangat
penting dalam tujuan pendidikan. Mengapa? Karena apa yang sudah ditanamkan guru
maupun orang tua, apakah hal tersebut mengena pada diri anak? Anak yang
mengerti masalah tersebut tentu akan menerapkan apa yang diajarkan oleh orang
tua maupun guru mereka, namun jika orang tua maupun guru sudah mengajarkan apa
yang harus diajarkan, tetapi anak tersebut tetap sombong, itu berarti memang
ada yang salah pada diri anak. Kesalahan pada diri anak tersebut dapat pula
dijabarkan oleh beberapa faktor, yang diantaranya adalah : anak cemburu dengan
anak lain yang kemampuannya melebihinya, sehingga ia menjadi sombong dengan
teman yang pengetahuannya dibawahnya untuk menutupi ketidakmampuannya.
Peran
guru sebagai pengawas sekaligus sebagai penerap pendidikan karakter bagi anak
sudah seharusnya berjuang untuk menjadikan anak sebagai generasi penerus bangsa
yang memiliki jiwa-jiwa kepemimpinan, berdasarkan pada nilai-nilai pancasila dan
pendidikan moral agama. Karena jika anak dilepas begitu saja tanpa
diterapkannya pendidikan moral, akan jadi apa anak-anak Indonesia? Peran serta
tugas guru sangatlah penting sekaligus berat, untuk itu guru haruslah dilatih
dengan pelatihan khusus agar dapat mendidik anak sesuai dengan tujuan
pendidikan nasional.
Kembali
pada rasa sombong yang dimiliki anak, tugas guru adalah menghilangkan perasaan
tersebut pada diri anak agar terciptanya keadaan yang selaras dengan apa yang
direncanakan oleh guru. Guru harus mampu mengembangkan apa yang anak bisa, agar
kemampuan lainnya dapat terlihat dan anak tidak menjadi minder. Jika guru dapat
menerapkan keadaan tersebut kepada anak, maka guru tersebut telah berhasil
menjadikan muridnya sesuai dengan apa yang direncanakannya. Namun, itu semua
semata-mata bukan hanya kesalahan guru, orang tua juga berperan penting dalam
mengawasi tingkah laku anak-anaknya. Jika anak salah, beri hukuman dan jika
anak melakukan suatu kebaikan maka berikan reward
atau pujian agar anak selalu berhati-hati dalam melakukan segala perbuatannya.
Komentar
Posting Komentar