Mau Jadi Apa?
Pendidikan
di Indonesia seperti yang dilihat sekarang ini, sekolah yang maju semakin maju,
namun sekolah yang terbelakang semakin terbelakang. Bagaimana dengan nasib
anak-anaknya? Dapat dilihat jika kita berjalan-jalan di kota-kota besar, banyak
anak mengemis, mengamen, memulung dan banyak pekerjaan lainnya yang sudah
dikerjakan olehnya, padahal itu dilakukan pada saat jam pelajaran. Lalu pa yang
terjadi kepada mereka? Mengapa mereka melakukan berbagai pekerjaan tersebut,
bukannya sekolah?
Banyak
anak yang menjadi anak jalanan yang disebabkan oleh berbagai faktor,
diantaranya adalah faktor lingkungan, faktor orang tua dan dirinya sendiri. Ada
banyak fakta orang tua yang kurang melek huruf, mengatakan kepada anaknya untuk
bekerja daripada melanjutkan sekolah, toh anak mereka itu bodoh dan percuma
disekolahkan. Fakta dari lingkungan dapat diambil dari berbagai segi, contohnya
teman sebaya yang pada hakikatnya adalah teman sepermainan anak yang lebih
banyak menghabiskan waktunya dengan anak daripada orang tua. Mereka juga
menjadi faktor utama dalam menentukan bagaimana pendidikan si anak. Teman yang
kurang baik tentu akan menjerumuskan anak tersebut kedalam lubang yang sangat
dalam. Bagaimana tidak? Ia akan menghasut si anak untuk tetap bermain dan
bekerja daripada untuk sekolah. Itu akan sangat merugikan diri anak, terutama
orang tua yang nantinya akan semakin jauh pengawasannya terhadap anak. Fakta
terakhir adalah dari dalam diri sendiri, ini merupakan kenyataan terberat yang
dialami oleh setiap orang. Bagaimana tidak? Faktor utamanya yaitu berasal dari
diri kita sendiri yang berupa kemalasan.
Kemalasan
adalah penyakit yang paling sering menyerang manusia. Manusia dalam melakukan
hal apapun, pasti terbesit rasa malas didalamnya. Untuk individu yang tidak
berpendidikan, pemerintah sudah menyediakan sekolah-sekolah gratis dan untuk
belajar pun tidak perlu di sekolah. Namun bisa dilakukan dimanapun, seperti
pembukaan sekolah di pinggir-pinggir jalan, yang biasanya dibuka oleh para
relawan atau berupa pembagian buku-buku bacaan yang disumbangkan pada anak-anak
miskin di sekitaran Jakarta atau daerah-daerah terpencil. Ada bgitu banyak
akses untuk memperoleh pendidikan, namun jika didalam diri si anak sudah
terbesit kata malas sekolah, malas belajar, mau jadi apa?
Seharusnya
tidak ada anak yang bekerja di usianya yang masih dibawah umur ataupun
diumurnya yang seharusnya masih menempuh pendidikan? Lalu mengapa terjadi
seperti itu? Kurangnya dana menghambat segalanya. Walaupun terdapat sekolah
gratis, namun tidaklah pure itu
gratis, pasti ada biaya tambahan untuk biaya ini dan biaya itu. Sedangkan untuk
mereka makan sehari-hari saja susah, bagaimana jika uang yang didapat dari
hasil pekerjaan yang tidak seberapa itu, diperuntukkan untuk sekolah yang
nantinya ia tidak akan tahu akan putus sekolah kembali atau tidak, akan
berhasil atau tidak. Banyaknya anggapan seperti itu tentu memupuskan harapan
bagi mereka anak-anak kurang mampu yang nantinya akan membuat generasi mereka
tidak akan maju. Seperti seorang pemulung yang memiliki anak pemulung juga
karena ia tinggal di kawasan yang rata-ratanya pekerjaan masyarakatnya sebagai
pemulung, anaknya meneruskan pekerjaan ayahnya sebagai pemulung dan ia menikah
dengan seorang dari tempat tinggalnya yang memulung juga ataudenganpekerjaan
lain, namun dapat dikatakan sebagai pekerjaan yang kurang mapan juga. Mau jadi
apa?
Miris
melihat kenyataan yang akhirnya akan membuat beberapa generasi melakukan
pekerjaan yang sama selama hidupnya dikarenakan kurangnya pendidikan. Sekali
lagi, pendidikan memegang kunci utama dalam melakukan berbagai hal. Tanpa
adanya pendidikan, orang sulit untuk diterima kerja, sehingga ia mencari
pekerjaan yang tidak membutuhkan pendidikan. Padahal, dengan ia bersekolah
(memperoleh pendidikan) ia dapat membangun tatanan hidupnya menjadi lebih baik,
seperti keluarga pemulung yang memiliki anak rajin. Anak pemulung tersebut
bersekolah di sekolah biasa dan tetap melakukan pekerjaan memulungnya demi
membantu sang ayah dan keluarganya hidup sehari-hari. Dengan ia giat belajar,
apapun dapat diperolehnya. Ia bisa saja mendapat beasiswa dan bersekolah di
sekolah bagus tanpa memikirkan biaya pendidikan yang nantinya jika ia sukses,
ia bisa mengangkat keluarganya dari pemulung menjadi wirausaha atau pekerjaan
yang lebih baik lainnya.
Perlunya
motivasi dan dukungan dari orang tua akan menentukan anak dalam kehidupannya.
Bagaimana ia akan melanjutkan pendidikannya atau tidak, bagaimana teman
sepergaulannya dan hal-hal lainnya yang menyangkut tumbuh kembang anaknya. Perlunya
pendidikan bagi orang tua juga menentukan bagaimana anak kedepannya. Orang tua
yang berpendidikan namun ia miskin, ia akan tetap berusaha mensuport dan menyekolahkan anaknya agar anaknya itu berhasil.
Semuanya kembali pada ridho Allah, ridho orang tua.
Komentar
Posting Komentar