Rangkuman Filsafat Ilmu

Judul              : FILSAFAT ILMU
Karangan       : Prof. Dr. Ahmad Tafsir
Tahun terbit  : 2016
Penerbit          : PT Remaja Rosdakarya Offset – Bandung

BAB 1
PENDAHULUAN

Orang-orang yang mempelajari bahasa Arab mengalami kesulitan dalam menghadapi kata “Ilmu.” Karena dalam bahsa Arab, kata al-’ilm berarti pengetahuan (knowladge), sedangkan kata ilmu dalam bahasa Indonesia biasanya merupakan terjemahan dari science. Ilmu dalam arti science itu hanya sebagian dari al-’ilm. Oleh karena itu kata science diterjemahkan sebagai sain saja. Maksudnya agar orang yang mengerti bahasa Arab tidak bingung dalam membedakan kata ilmu (sain) dengan kata al-’ilm dalam bahasa Arab yang berarti knowladge.
Dalam mata kuliah filsafat pengetahuan, yang didiskusikan tidak hanya pengetahuan sain tetapi yang didiskusikan juga seluruh pengetahuan yang disebut dengan pengetahuan yang “aneh-aneh” seperti pelet, kebal, santet, saefi dan lain-lain. Jadi apa sebenarnya pengetahuan itu? pengetahuan ialah semua yang diketahui. Menurut Al-Qur’an, tatkala manusia dalam perut ibunya, ia tidak tahu apa-apa. Ketika manusia lahir pun barangkalia ia belum tahu apa-apa. Kalaupun bayi yang baru lahir itu pun menangis, karena kaget saja, mungkin matanya merasa silau atau badannya yang terasa dingin, karena dalam rahim tidak merasa silau maupun dingin.
Ketika orang tersebut menjadi orang dewasa, katakanlah ia telah berumur 40 tahunan, tentu pengetahuannya banyak sekali. Begitu banyaknya, sampai-sampai ia tidak tahu lagi berapa banyak pengetahuannya dan tidak tahu lagi apa saja yang diketahuinya, bahkan kadang-kadang ia tidak mengetahui apa sebenarnya pengetahuan itu. semakin bertambah umur manusia itu semakin banyak pengetahuannya. Mengetahui pengetahuan dapat dilihat dari du cara, pertama pengetahuan diperoleh begitu saja tanpa niat, tanpa motif, tanpa keingintahuan dan tanpa usaha. Contohnya adalah orang sedang berjalan dan tiba-tiba ia tertabrak becak, tanpa rasa ingin tahu ia sudah tau jika tertabrak becak itu sakit. Kedua pengetahuan dapat diperoleh karena ada usaha, contohnya seperti belajar.
Dari mana rasa ingin tahu itu? Rasa ingin tahu dapat didapat dari mana-mana, barangkali rasa ingin tahu itu sudah ada pada manusia dalam penciptaannya. Jadi, rasa ingin tahu itu takdir. Karena manusia ingin tahu, lalu ia mencari dan hasilnya ia mengetahui sesuatu. Nah, sesuatu itu adalah pengetahuan. Jadi, penetahuan adalah sesuatu yang diketahui. Sedangkan tujuan dari mata kuliah filsafat ini adalah agar kita memahami pengetahuan dan dengan mengetahui pengetahuan, kita dapat memperlakukan masing-masing daru pengetahuan itu sesuai kaplingnya.
Sebagai contoh, seseorang iangin tahu jika jeruk ditanam, buahnya apa. Ia menanam buah jeruk dan ia tunggu beberapa tahun ternyata buahnya benar adalah jeruk. Tahulah ia jika menanam buah jeruk yang tumbuh juga adalah buah jeruk, maka inilah yang dinamakan sebagai pengetahuan sain. Namun sebenarnya pengetahuan sain tidak sesederhana itu, karena pengetahuan sain harus berdasarkan logika (rasional). Pengetahuan sain adalah pengetahuan yang rasional dan didukung oleh bukti empiris dan yang paling menonjil adalah bukti empiris tersebut. Formula utama dari penetahuan sain adalah “buktikan bahwa itu rasional dan tunjukkan bukti empirisnya.”
Formula itu perlu sekali diperhatikan karena adakalanya kita menyaksikan bukti empirisnya ada, tetapi tidak rasional dan yang seperti itu bukanlah pengetahuan sain atu ilmu. Contohnya, bila ada gerhana pukullah kentongan, lalu lama-kelamaan gerhana akan hilang. Terbukti memang, bukti empirisnya ada, tetapi itu bukan pengetahuan sain sebab tidak ada bukti rasional yang dapat menghubungkan berhenti atau hilangnya gerhana. Dari sudut ini dapat pula kita ketahui bahwa objek penelitian pengetahuan sain hanyalah objek yang empiris sebab ia harus menghasilkan bukti empiris.
Bila anda berpikir secara serius, maka akan ada jawabannya. Kebenaran pengetahuan filsafat dapat dipertanggung jawabkan  secara rasioanal. Bila rasional maka benar, bila tidak maka salah. Kebenarannya tidak pernah dapat dibuktikan secara empiris. Bila rasional dan empiris, maka ia berubah menjadi pengetahuan sain. Objek penelitiannya adalah objek yang abstrak dan temuannya juga abstrak. Kembali pada contoh jeruk, jeruk ditanam buahnya adalah jeruk (pengetahuan sain) dan jeruk ditanam maka akan berbuah jeruk karena ada hukum yang mengatur demikian (pengetahuan filsafat). Lalu dari mana hukum tersebut, dalam filsafat mengatakan bahwa hukum itu dibuat oleh alam itu sendiri secara kebetulan. Namun dalam teori lain, hukum tersebut dibuat oleh Yang Maha Pintar, ini logis namun dalam artu supra-rasional. Ini masih pengetahuan filsafat karena Yang Maha Pintar tersebut dapat disebut sebagai Tuhan.
Nah, siapakah tuhan itu, ada orang yang ingin melihatnya, mengenalnya dan bertanya langsung kepadanya. Tuntutan orang ini tidak dapat dijabarkan oleh pengetahuan sain dan juga pengetahuan filsafat karena objek yang ingin mereka ketahui bukanlah objek yang bersifat empiris dan juga tidak dapat dicapai dengan akal manusia. Objek tersebut abstrak supra-rasional atau meta-rasional, lalu bagaimana mengetahuinya? Objek supra-rasional dapat diketahui melalui rasa, bukan dengan pancaindera ataupun akal rasional. Menurut (Prof. Dr. Ahmad Tafsir) dalam bukunya Filsafat Ilmu, pengetahuan jenis abstrak supra-rasional memang aneh. Paradigmanya disebut dengan paradigma mistik, metodenya disebut dengan metode latihan dan metode yakin, pengetahuan jenisnya disebut dengan pengetahuan mistik.
Dengan begitu, kita telah mengetahui tiga jenis pengetahuan yang diantaranya adalah :
Pengetahuan
Objek
Paradigma
Metode
Kriteria
SAIN
Empiris
Sain
Metode ilmiah
Rasional - empiris
FILSAFAT
Abstrsk - rasional
Rasional
Metode rasional
Rasional
MISTIK
Abstrak – supra-rasional
Mistik
Latihan, percaya
Rasa, iman, logis, kadang empiris

Yang belum diurus dalam pengetahuan diatas adalah pengetahuan seni (indah dan tak indah) dan estetika (baik dan tidak baik). Agaknya objek pengetahuan seni adalah objek empiris, abstrak-rasional dan abstrak supra-rasional. Paradigmanya mungkin kumpulan tiga paradigma diatas, metodenya juga demikian dan kriterianya ialah indah dan tak indah sedangkan dengan estetikanya sama dengan paradigma diatas, metodenya juga demikian dan ukurannya ialah baik dan tak baik. Nah baik dan tak baik itu memiliki persoalan yang tidak sederhana, baik menurut apa? Buruk menurut siapa? Pada zaman (waktu) kapan?

LOGIS DAN RASIONAL
Menurut (Prof. Dr. Ahmad Tafsir : 2016) dalam bukunya Filsafat Ilmu, ia menganggap “yang logis” adalah sama dengan “yang rasional” atau lebih tepatnya ia tidak mengetahui perbedaannya. Menurut Kant, rasional sebenarnya sesuatu yang masuk akal sebatas hukum alam. Ternyata istilah logis dan rasional meupakan merupakan dua istilah yang sangat populerdalam artian, dua istilah tersebut sering digunakan orang dari lapisan manapun.
Ada contoh, seseorang mengantarkan temannya yang sakit aneh kepada seorang dukun dan dukun tersebut mengobatinya dengan cara yang tidak dikenal lantas temannya tersebut sembuh. Lalu ia menceritakan perihal temannya tersebut kepada temannya yang lain dan temannya itu mengatakan bahwa perbuatan tersebut musyrik karena tidak rasional. Lalu ada anak-anak bercerita tentang hantu, ia mengatakan hantu rupanya begini-begini dan tingkahnya begini-begini. Ada yang berpendapat itu hal tidak rasional, tidak logis. Lalu apa rasionalnya babi itu haram dan apa cukup logis menyimpulkan bahwa surga dan neraka itu ada?
Kant mengatakan bahwa apa yang kita katakan rasional itu ialah suatu pemikiran yang masuk akal tetapi menggunakan ukuran hukum alam. Dengan kata lain, rasional itu adalah kebenaran akal yang diukur dengan hukum alam. Teorinya dapat dijelaskan sebagai berikut, tatkala kalian berpikir bahwa nabi Ibrahim dibakar tidak hangus, itu adalah hal yang tidak rasional karena menurut hukum alam sesuatu yang dibakar pasti hangus, kecuali bahan tersebut merupakan materi yang tidak hangus dibakar, sedangkan Nabi ibrahim bukan materi yang tidak hangus ketika dibakar. Ketika nabi Musa melemparkan tongkatnya ke tanah, lantas tongkat tersebut menjadi ular, segera saja kalian mebceritakan cerita tersebut sebagai sesuatu yang tidak rasional, karena menurut hukum tongkat tidak akan bisa berubah menjadi ular. Tetapi pesawat yang beratnya ratusan ton dapat terbang? Karena pesawat dirancang sesuai dengan hukum alam dan itu rasional. Oang tidak mungkin kebal karena itu berlawanan dengan hukum alam, demikianlah sebagian pernyataan orang sebagai contoh.
Kesimpulannya jelas :
1.      Sesuatu yang rasional ialah sesuatu yang mengikuti atau sesuai dengan hukum alam.
2.      Yang tidak rasional ialah yang tidak sesuai dengan hukum alam.
3.      Kebenaran akal diukur dengan hukum alam.
Dulu, Prof. Dr. Ahmad Tafsir menyangka yang rasional itu amat tinggi kedudukannya, ia dapat mengatasi hukum alam. Ternyata tidaklah demikian. Kebenaran rasional itu tidaklah sehebat yang ia pikirkan, itu hanya sebatas hukum alam. Kebenaran rasional tidak lebih dari kebenaran sejauh yang ditunjukkan hukum alam. Bagaimana dengan logis? Kebenaran tentang logis dibagi menjadi dua. Pertama, logis-rasional (yang sudah dijelaskan diatas tadi) dan yang kedua adalah logis supra-rasional yang merupakan kebenaran yang masuk akal sekalipun melawan hukum alam. Apakah Nabi Ibrahim tidak hangus ketika dibakar itu juga tidak logis dalam arti supra-rasional?
Tuhan menciptakan api dalam artian api itu sendiri beserta panasnya. Apinya dibuat oleh Tuhan, panasnya juga dibuat oleh Tuhan (jika bukan Tuhan yang membuatnya, maka harus diberikan uraian yan kuat untuk menjabarkannya). Sekarang untuk menyelamatkan utusannya, Tuhan mengubah sifat api yang panas menjadi dingin. Bolehkah Tuhan berbuat demikian? Tentu boleh, karena ia yang membuatnya. Masuk akal bukan? Inilah yang dinamakan dengan logis supra-nrasional, jadi logis saja api tidak menghanguskan Nabi Ibrahim. Kasus Nabi Ibrahim ini merupakan kasus yang tidak rasional tetapi logis dalam arti logis supra-rasional dan kesimpulannya adalah : yang logis ialah yang masuk akal. Terdiri atas yang logis rasional dan logis supra-rasional.
Kita dapat membuat beberapa ungkapan sebagai berikut :
1.      Yang logis ialah yang masuk akal.
2.      Yang logis itu mencakup yang rasional dan yang supra-rasional.
3.      Yang rasional ialah yang masuk akal dan sesuai dengan hukum alam.
4.      Yang supra-rasional ialah yang masuk akal skalipun tidak sesuai dengan hukum alam.
5.      Istilah logis boleh dipakai dalam pengertian rasional atau dalam pengertian supra-rasional.
Beberapa kesimpulan sebagai konsep implikasi konsep logis diatas, yaitu :
1.      Isi al- quran ada yang rasional dan ada yang supra-rasional.
2.      Isi al quran itu semuanya logis, sebagian logis rasional sebagian logis supra-rasional.
3.      Rumus metode ilmiah yang selama ini logico hypothetico-verificatif, dapat diteruskan dengan penjelasan logico itu harus diartikan rasio.
4.   Mazhab rasionalisme tidak dapat diterima oleh sistem ini, yang dapat diterima ialah mazhab logisme.

BAB II
PENGETAHUAN SAIN

A.    Ontologi Sain
Dibicarakan mengenai hakikat dan struktur sain. Hakikat sain menjawab pertanyaan apa sain itu sebenarnya. Struktur sain seharusnya menjelaskan cabang-cabang sain serta isi setiap cabang itu.

1.      Hakikat Pengetahuan Sain
Pada bab I dijelaskan bahwa pengetahuan sain adalah pengetahuan yang bersifat rasional empiris. Pertama, masalah rasional. Prof. Dr. Ahmad Tafsir berjalan-jalan pada suatu kampung, kampung yang satu penduduknya sehat-sehat sedangkan kampung sebelah banyak yang sakit. Setelah diteliti kembali, kampung pertama penduduknya memelihara ayam dan memakan telurnya sedangkan pada kampung sbelah mereka memelihara ayam tetapi tidak memakan telurnya alias menjualnya. Dalam kenyataan tersbut Prof. Dr. Ahmad Tafsir menarik kesimpulan bahwa kampung yang sehat adalah kampung yang banyak memakan telur. Berdasarkan hal ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin banyak makan teluur akan semakin sehat atau telur berpengaruh positif terhadap kesehatan.
Hipotesis harus berdasarkan rasio, dengan kata lain hipotesis harus rasional. Dalam hal hipotesis yang saya ajukan itu rasionalnya adalah : untu sehat diperlukan gizi, telur banyak mengandung gizi, karena itu logis bila semakin banyak makan telur akan semakin sehat. Hipotesis tersebut belum diuji kebenarannya namun telah mencukupi dari segi kerasionalannya. Dengan kata lain hipotesis tersebut rasional. Kata rasional tersebut menunjukkan adanya sebab akibat.
Kedua, masalah empiris. Untuk menguji hipotesis tersebut digunakan metode eksperimen dengan cara mengambil satu atau dua kampung yang kemudian memintanya untuk makan telur secara teratur selama setahun sebagai kelompok eksperimen dan mengambil satu atau dua kampung yang lain untuk memintanya tidak makan telur selama setahun sebagai kelompok kontrol. Sekarang hipotesisnya semakin banyak makan telur semakin sehat atau telur berpengaruh positif terhadap kesehatan terbukti. Setelah terbukti, setelah berkali-kali maka menjadi teori. Teorinya yang mengatakan bahwa “semakin banyak makan telur akan semakin sehat” atau “telur berpengaruh positif terhadap kesehatan” adalah teori yang bersifat rasional empiris.  Teori seperti inilah yang disebut teori ilmiah dan beginilah teori dalam sain.
Cara kerja yang diterapkan oleh Prof. Dr. Ahmad Tafsir merupakan cara kerja metode ilmiah. Rumus baku metode ilmiah ialah “buktikan bahwa itu logis, tarik hipotesis, ajukan bukti empiris.”ilmu sain berisi teori. Teori itu pada dasarnya menerangkan hubungan sebab akibat dan sain tidak memberikan nilai baik atau buruk, halal atau haram, sopan atau tidak sopan, indah dan tak indah. Kenyataan inilah yang menyebabkan orang menyangka bahwa sain itu netral, namun dalam konteks lain belum tenti iya.

2.      Struktur Sain
Dalam garis besarnya, sain dibagi menjadi sain kealaman dan sain sosial. Contoh berikut ini hendak menjelaskan struktur sain dalam bentuk nama-nama ilmu. Nama banyak sekali dan berikut diantaranya :
a.       Sain kealaman
1.)    Astronomi.
2.)    Fisika (mekanika, bunyi, cahaya dan optik, fisika nuklir).
3.)    Kimia (kimia organik, kimia teknik).
4.)    Ilmu bumi (paleontologi, ekologi, geofisika, geokimia, mineralorgi, geografi).
5.)    Ilmua hayat (biofisika, botani, zoologi).
b.      Sain sosial
1.)    Sosiologi (sosiologi komunikasi, sosiologi politik, sosiologi pendidikan).
2.)    Antropologi (antropologi budaya, antropologi ekonomi, antropologi politik)
3.)    Psikologi (psikologi pendidikan, psikologi anak, psikologi abnormal).
4.)    Ekonomi (ekonomi makro, ekonomi lingkungan, ekonomi pedesaan).
5.)    Politik (politik dalam negeri, politik hukum, politik internasional).
c.       Sain soaial
1.)    Seni (seni abstrak, seni grafika, seni pahat, seni tari).
2.)    Hukum (hukum pidana, hukum tata usaha negara, hukum adat – mungkin dapat dimasukkan kedalam sain sosial).
3.)    Filsafat (logika, etika, estetika).
4.)    Bahasa (sastra).
5.)    Agama (islam, kristen, confusius).
6.)    Sejarah (sejarah Indonesia, sejarah dunia - mungkin dapat dimasukkan kedalam sain sosial).

B.     Epistemologi Sain
Pada bagian ini diuraikan objek pengetahuan sain, cara memperoleh pengetahuan sain dan cara mengukur benar tidaknya pengetahuan sain.
1.      Objek Pengetahuan Sain
Merupakan objek-objek yang diteliti sain dan semuanya merupakan objek yang empiris. Apakah objek yang boleh diteliti oleh sain itu bebas? Artinya, apakah sain boleh meneliti apa saja asal empiris? Jika menurut sain, ia boleh meneliti apa saja, ia bebas. Namun menurut filsafat, akan tergantung pada filsafat yang mana, menurut agama belum tentu boleh. Objek yang dapat diteliti oleh sain banyak sekali, ada tumbuhan, hewan dan manusia serta kejadian yang terjadi disekitar alam, tetumbuhan, hewan dan manusia  itu sendiri. Semuanya dapat diteliti oleh sain dan dari penelitian itulah didapatkan teori sain. Teori tersebut dikelompokkan menjadi beberapa cabang dan itu disebut juga dengan struktur sain.

2.      Cara Memperoleh Pengetahuan Sain
Perkembangan sain didorong oleh paham humanisme yang mana merupakan paham filsafat yang mengajarkan bahwa manusia mampu mengatur dirinya dan alam, humanisme sendiri telah muncul pada zaman Yunani Lama (Yunani Lama). Manusia memerlukan aturan untuk mengatur alam, pengalaman manusia jika alam tidak diatur maka akan menyulitkan kehidupan manusia, sementara itu manusia tidak ingin dipersulit oleh alam. Bagaimana membuat aturan untuk mengatur manusia dan alam? Siapa yang membuat aturan itu? Orang Yunani Kuno sudah menemukan bahwa manusialah yang membuat aturan itu, jadi manusia itulah yang harus membuat aturan untuk mengatur manusia dan alam. Bagaimana membuat dan apa alatnya?
Bila aturan itu dibuat berdasarkan agama atau mitos, maka akan sulit sekali menghasilkan aturan yang disepakati. Pertama, mitos itu tidak mencukupi untuk dijadikan sumber membuat aturan untuk mengatur hidup manusia dan kedua, mitos itu tidak amat mencukupi untuk membuat aturan untuk mengatur kehidupan alam. Lalu, apa sumber aturan itu, jika diambil berdasarkan agama, agama apa? Karena masing-masing agama menyatakan dirinya benar, semantara yang lain salah dan jika aturan dibuat berdasarkan aturan agama, maka akan ada banyak orang yang menolaknya. Padahal aturan itu dibuat untuk disepakati oleh semua orang.
Menurut mereka, aturan itu harus dibuat berdasarkan sesuatu yang ada pada manusia, alat itu adalah akal. Mengapa akal? Pertama, karena akal dianggap mampu. Kedua, karena akal setiap orang bekerja berdasarkan aturan yang sama. Aturan tersebut adalah logika alami yang ada pada akal manusia dan akal merupakan alat serta sumber yang dapat disepakati. Maka, dari humanisme melahirkan rasionalisme. Rasionalisme merupakan paham yang menyatakan bahwa akal itu adalah alat pencari dan pengukur pengetahuan. Pengetahuan dicari dengan akal, temuannya diukur dengan akal pula. Dengan akal itulah aturan untuk mengatur manusia dn alam itu dibuat. Itu juga berarti bahwa kebenaran bersumber pada akal.
Namun dalam proses pembuatan aturan seringkali bertentangan, ada pengertian menurut ini dan ada yang menurut itu, karena dua-duanya sama-sama logis. Apa yang diperoleh dari kenyataan itu? Yang diperoleh adalah berpikir logis tidak menjamin diperolehnya kebenaran yang disepakati, padahal aturan itu harusnya disepakati. Kalau begitu diperlukan alat lain, alat tersebut adalah empirisme.
Empirisme adalah paham filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar adalah yang logisdan ada bukti empisnya. Dengan empirisme inilah aturan (untuk mengatur manusia dan alam) itu dibuat. Namun empirisme juga masih memiliki kekurangan, yaitu belum terukur karena empirisme hanya sampai pada konsep-konsep yang umum. Sebagai contoh, air kopi yang baru diseduh panas, nyala api ini lebih panas, besi yang mendidih ini sangat panas dan begitulah seterusnya. Empirisme hanya menemukan konsep yang sifatnya umum dan konsep tersebut belum operasional karena belum terukur. Jadi masih diperlukan alat berupa positivisme. Jadi, hal panas dalam positivisme ini dapat dikatakan juga air kopi ini 80 derajat celcius, air mendidih ini 100 derajat celcius, bsi mendidih ini 1000 derajat celcius. Ukuran-ukuran ini operasional, kuantitatif, tidak memungkinkan perbedaan pendapat. Sebagaimana aturan untuk mengatur manusia dan alam yang kita miliki sekarang bersifat pasti dan rinci.
Positivisme sudah dapat disetujui untuk memulai upaya membuat aturan untuk manusia dan alam. Kata positivisme, ajukan logikanya, ajukan bukti empirisnya yang terukur. Tetapi bagaimana caranya? Kita masih membutuhkan alat lain berupa metode ilmiah. Sayangnya metode ilmiah sebenarnya tidak mmnegajukan sesuatu yang baru. Metode ilmiah hanya mengulangi ajaran positivisme tetapi lebih operasional. Dalam metode ilmiah, mula-mula buktikan bahwa itu logis, kemudian ajukan hipotesis, kemudian lakukan pembuktian hipotesis tersebut secara empiris. Dengan menggunakan rumus metode ilmiah tersebut kita membuat aturan. Metode ilmiah sendiri secara teknis dan rinci dijelaskan dalam satu bidang ilmu yang disebut metode riset. Metode riset ini sendiri menghasilkan model-model penelitian yang kemudian menjadi instansi terakhir (dan memang operasional) dalam membuat aturan (manusia dan alam) tadi. Inilah sebagian dari isi kebudayaan manusia, yaitu pengetahuan sain, filsafat dan mistik. Urutannya akan diuraikan sebagai berikut :
Humanisme – Rasionalisme – Empirisme – Positivisme – Metode Ilmiah – Metode Riset – Model-model Penelitian – Aturan untuk mengatur manusia dan alam.

3.      Ukuran Kebenaran Pengetahuan Sain
Ilmi berisi teori-teori. Jika hipotesis terbukti, maka pada saatnya ia menjadi teori. Jika sesuatau teori selalu benar (selalu didukung oleh bukti empiris), maka teori tersebut naik tingkat keberadaannya menjadi hukum atau aksioma. Namun banyak mahasiswa yang menyangka bahwa hipotesis ada benarnya dan ada salahnya, sehingga diperoleh kesimpulan 50:50 atau fifty-fifty. Persangkaan itu salah. Hipotesis dalam sain ialah pernyataan yang sudah benar menurut logika, tetapi belum ada bukti empirisnya. Belum atau tidak ada bukti empiris bukanlah merupakan bukti bahwa hipotesis itu salah. Karena hipotesis benar apabila logis atau tidak ada bukti empirisnya adalah soal lain. Dari sini kita tahu bahwa kelogisan suatu hipotesis juga teori lebih penting ketimbang bukti empirisnya.

C.    Aksiologi Sain
 Pada bagian ini akan dibicarakan tiga hal yaitu, kegunaan sain, cara menyelesaikan masalah dan netralitas sain.
1.      Kegunaan Pengetahuan Sain
Apa guna sain? Pertanyaan sama dengan apa guna pengetahuan ilmiah, karena sain isinya teori ilmiah. Secara umum, teori artinya pendapat yang beralasan. Alasan itu dapat berupa argumen logis, ini teori filsafat, berupa argumen perasaan atau keyakinan dan kadang-kadang empiris, ini pengetahuan dalam pengetahuan mistik, berupa argumen logis-empiris, ini teori sain.
a.       Teori sebagai alat eksplanasi
Menurut (T. Jacob) dalam (Prof. Dr. Ahmad Tafsir : 2016), sain merupakan suatu sistem eksplanasi yang paling dapat diandalkan dibandingkan dengan sistem lainnya dalam memahami masa lampau, sekarang serta mengubah masa depan. Bagaimana contohnya? Contohnya, akhir tahun 1997 nilai rupiah semakin murah, hal tersebut telah memberikan dampak terhadap mahalnya barang-barang kebutuhan untuk dibeli. Bagaimana menerangkan gejala ini?
Teori-teori ekonimi atau bahkan politik mngeksplanasikan gejala ini. Dalam teori ekonomi mengatakan bahwa banyak utang kepada luar negeri yang harus dibayar, sementara hutang itu harus dibayar dengan dolar, maka banyak sekali orang yang memerlukan dolar, karena banyak orang yang membeli dolar maka harga dolar naik dalam rupiah. Jadi pada intinnya, kegunaan teori penting sebagai alat membuat eksplanasi.
b.      Teori sebagai alat peramal
Tatkala membuat eksplanasi, biasanya ilmuan juga telah mengetahui juga faktor penyebab terjadinya gejala itu. Dengan mengutak-atik faktor penyebab itu, ilmuan dapat membuat ramalan atau prediksi untuk membedakannya dari ramalan dukun. Dalam contoh kurs dolar tadi, dengan mudah orang ahli meramal. Misalnya, karena bulan-bulan mendatang hutang luar negeri jatuh tempo semakin banyak, maka diprediksikan kurs rupiah terhadap dolar akan semakin lemah. Tepat dan banyaknya ramalan yang didapat oleh ilmuan akan ditentukan oleh kekuatan teori yang ia gunakan, kepandaian dan kecerdasan serta ketersediaan data di sekitar gejala tersebut.
c.       Teori sebagai alat pengontrol
Eksplanasi merupakan bahan untuk membuat ramalan dan kontrol, ilmuan jugadapat membuat kontrol. Kita ambil lagi contoh tadi, agar kurs rupiah menguat, perlu ditangguhkan pembayaran hutang yang jatuh tempo, jadi pembayaran utang diundur. Apa yang dikontrol? Yang dikontrol adalah kurs rupiah terhadap dolar agar tidak naik. Kontrolnya ialah kebutuhan terhadap dolar dikurangi dengan cara menangguhkan pembayaran hutang dalam dolar.
Agar kontrol efektif, sebaiknya tidak hanya dengan satu macam. Sebagi contoh lain, ayah dan ibu sudah cerai. Kontrol yang dilakukan agar anak-anak yang menjadi korban perceraian tidk nakal adalah dengan cara mungkin pamannya, bibinya atau kakeknya dapat menjadi pengganti orang tua. Perbedaan prediksi dan kontrol adalah prediksi bersifat pasif, tatkala ada kondisi tertentu maka kita dapat membuat prediksi, misalnya akan terjadi ini atau itu. Sedangkan kontrol bersifat aktif terhadap suatu keadaan, kita membuat suatu tindakan agar tidak terjadi ini dan itu.
2.      Cara Sain Menyelesaikan Masalah
Ilmu atau sain yang isinya teori dibuat untuk memudahkan kehidupan. Bila kita menghadapi kesulitan atau masalah kita menghadapi dan menyelesaikan masalah itu dengan menggunakan ilmu. Sebagai contoh, zaman dahulu orang mengambil air dibawah bukit sehingga harus melalui jalan menurun, namun ketika kembali orang akan melalui jalan yang menanjak dan itu menyulitkan. Sehingga dibuatlah sumur sehingga orang tidak perlu lagi naik turun untuk mendapatkan air dan sumur dapat dibuat didekat rumah.
Membuat sumur membutuhkan ilmu, namun sumur juga ternyata masih menyusahkan karena sumur harus ditimba dan juga sumur amat dalam. Akhirnya orang mencari teori agar air lebih mudah diambil dan akhirnya orang menemukan pompa air yang digerakkan dengan tangan. Hal tersebut masih dirasa menyulitkan sehingga orang mencari teori lagi sehingga didapatlah mesin, sekarang untuk mencari air amatlah mudah.
Contoh lain, sebuah kampung yang sudah berdiri ratusan tahun lamanya dengan anak-anak dan remaja yang begitu baiknya, tidak mencuri, tidak mabuk-mabukkan. Sampai ketika jalan raya melewati kampung tersebut dan penduduk mendapatkan listrik. Namun beberapa tahun kemuudian anak-anak berubah nakal, mereka mencuri dan mabuk-mabukan. Warga desa bertanya-tanya, mengapa keadaan menjadi begini?
Akhirnya mereka memanggil ilmuan dan meminta bantuannya. Langkah-langkah yag dilakukan oleh ilmuan tersebut adalah, pertama, ia mengidentifikasi masalah. Ia ingin mengetahui kenakalan seperti apa yang dilakukan oleh anak-anak dan remaja yang ada di kampung itu. Secara premis, misalnya berapa orang, siapa yang nakal, malam atau hari apa saja kenakalan tersebut dilakukan, penyebab mabuk dan lain sebagainya. Ia ingin tahu sebanyak-banyaknya atau selengkap-lengkapnya tentang kenakalan remja yang diceritakan oleh warga desa. Ia mengidentifikasi masalah itu yang biasanya dilakukan dengan cara penelitian. Hasil penelitian itu ia analisis untuk mengetahui secara persis segala sesuatu di seputar kenakalan itu.
Kedua, ia mencari teori tentang sebab-sebab kenakaln remaja. Biasanya ia cari dalam literatur. Ia menemukan ada beberapa teori yang menjelaskan sebab-sebab kenakalan remaja. Diantara teori itu, ia memilih yang paling tepat untuk menyelesaikan masalah kenakalan remaja di kampung tersebut. Ketiga, ia kembali membaca literatur lagi. Sekarang ia mencari teori yang menjelaskan cara memperbaiki remaja nakal. Dalam buku tersebut ia memperbaiki remaja sesuai dengan penyebabnya dan ia sudah tahu penyebabnya sehingga ia mengusulkan tindakan-tindakan yang harus dilakukan oleh orang yang tepat.

BAB III
PENGETAHUAN FILSAFAT

A.    Ontologi Filsafat
Ontologi filsafat membicarakan hakikat filsafat, yaitu apa pengetahuan filsafat itu sebenarnya. Struktur filsafat itu apa? Yang dimaksud struktur disini adalah cabang-cabang filsafat serta isi (teori) dalam setiap cabang itu. Yang dibicarakan disini hanyalah cabang-cabang saja, itupun hanya sebagian. Struktur dalam arti cabang-cabang filsafat sering juga disebut sistematika filsafat.

1.      Hakikat Pengetahuan Filsafat
Menurut (Hatta : 1996) dalam (Prof. Dr. Ahmad Tafsir : 2016), mengatakan bahwa pengertian filsafat lebih baik tidak dibicarakan terlebih dahulu, nanti bila orang telah mempelajari filsafat orang itu akan mengerti dengan sendirinya apa filsafat itu. Adapun menurut (Langeveld : 1961) dalam (Prof. Dr. Ahmad Tafsir : 2016), mengatakan bahwa setelah orang berfilsafat sendiri barulah ia maklum apa filsafat itu, makin dalam ia berfilsafat akan semakin mengerti ia apa filsafat itu.
Pendapat Hatta dan Langeveld itu benar, tetapi apa salahnya mencoba menjelaskan pengertian filsafat dalam bentuk suatu uraian. Dari uraian itu diharapkan pembaca mengetahui apa filsafat itu, sekalipun belum lengkap. Maka dari situ akan ditangkap apa itu pengetahuan filsafat. Apa yang dikatakan oleh Hatta dan Langeveld memang ada benarnya. Kita sebenarnya tidak cukup hanya dengan mengatakan filsafat ialah hasil pemikiran yang tidak empiris, karena pernyataan itu memang belum lengkap.




2.      Struktur Filsafat
Hasil berpikir tentang yang ada dan mungkin ada itu telah terkumpul banyak sekali, setelah disusun secara sistematis, itulah yang disebut sistematika filsafat dan yang inilah yang disebut dengan struktur filsafat. Filsafat terdiri dari tiga cabang, yaitu :
a.       Ontologi, membicarakan hakikat (segala sesuatu) ini berupa pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu. Ontologi mencakup banyak sekali filsafat, mungkin semua filsafat masuk disini. Misalnya, logika, metafisika, kosmologi, teologi, antropologi, etika, estetika,filsafat pendidikan, filsafat hukum, dll.
b.      Epistemologi, cara memperoleh pengetahuan itu. Hanya mencakup satu bidang saja, ini berlaku untuk semua cabang filsafat.
c.       Aksiologi, membicarakan guna pengetahuan itu. Hanya mencakup satu cabang filsafat, yang membicarakan guna pengetahuan filsafat.

B.     Epistemologi Filsafat
Epistemologi filsafat membicarakan tiga hal, yaitu objek filsafat (yang dipikirkan), cara memperoleh pengetahuan filsafat dan ukuran kebenaran (pengetahuan filsafat).
1.      Objek Filsafat
Tujuan berfilsafat ialah menemukan kebenaran yang sebenarnya, yang terdalam. Jika hasil pemikiran itu disusun, maka susunan itulah yang kita sebut sistematika filsafat. Sistematika atau struktur filsafat dalam garis besar terdiri atas ontologi, epistemologi dan aksiologi. Isi setiap cabang filsafat ditentukan oleh objek apa yang diteliti. Jika ia memikirkan pendidikan maka jadilah filsafat pendidikan. Jika yang dipikirkannya hukum, maka jadilah filsafat hukum dan seterusnya. Seberapa luas yang dipikirkan? Luas sekali, yaitu semua yang ada dan mungkin ada. Inilah objek filsafat.
Objek penelitian filsafat lebih luas daripada objek penelitian sain. Sain hanya meneliti objek yang ada, sedangkan filsafat meneliti objek yang ada dan mungkin ada. Perlu ditegaskan lagi bahwa sain meneliti objek yang ada dan empiris, yang ada tetapi abstrak (empiris) tidak dapat diteliti oleh sain.



2.      Cara Memperoleh Pengetahuan Filsafat
Pertama-tama, filosof harus membicarakan (mempertanggungjawabkan) cara mereka memperoleh pengetahuan filsafat. Yang menyebabkan kita hormat kepada filosof antara lain ialah karena ketelitian mereka, sebelum mencari pengetahuan mereka membicarakan lebih dahulu cara memperoleh pengetahuan tersebut. Berfilsafat ialah berpikir. Berpikir itu tentu menggunakan akal sehingga menjadi persoalan apakah akal itu? John Locke mempersoalkan hal ini, karena ia melihat pada zamannya akal telah digunakan dengan terlalu bebas, telah dipergunakan sampai diluar batas kemampuan akal. Hasilnya ialah kekacauan pemikiran pada masa itu.
Bagaimana manusia memperoleh pengetahuan filsafat? Dengan berpikir secara mendalam, tentang sesuatu yang abstrak. Mungkin juga objek pemikirannya sesuatu yang konkret, tetapi yang hendak diketahuinya ialah bagian “di belakang” objek konkret itu, ia ingin mengetahui sedalam-dalamnya. Kapan pengetahuan itu dikatakan mendalam? Dikatakan mendalam ketika ia sudah berhenti sampai tanda tanya dan tidak dapat maju lagi. Disanalah orang berhenti dan ia telah mengetahui sesuatu secara mendalam. Jadi jelas, mendalam bagi seseorang belum tentu mendalam bagi orang lain. Seperti telah disebutkan dimuka, sain mengetahui sebatas fakta empiris. Ini tidak mendalam dan filsafat ingin mengetahui dibelakang sesuatu yang empiris itu. Inilah yang disebut mendalam. Contohnya gula rasanya manis, itu merupakan pengetahuan sain. Namun dibelakang itu ada hal yang mengaturnya mengapa ia rasanya manis, ini pengetahuan filsafat, bersifat abstrak dan baru satu langkah. Orang lain dapat mengetahui bahwa ini sudah dibuat oleh Yang Maha Pintar, ini merupakan langkah kedua. Sedangkan orang mengetahui bahwa Yang Maha Pintar itu merupakan Tuhan, ini merupakan langkah ketiga.
Pada uraian diatas kita mengetahui akal itu diperdebatkan oleh ahli akal dan orang-orang yang secara intensif menggunakan akalnya. Kerja akal, yaitu berfikir mendalam, menghasilkan filsafat. Filsafat kadang-kadang diragukan oleh filsafat itu sendiri. Jika ingin mengetahui sesuatu yang tidak empirik, apa yang kita gunakan? Ya akal itu. Apapun kelemahan akal, walaupun akal tersebut sampai diragukan, toh akal yang menghasilkan filsafat tersebut. Yang penting adalah, jangan bergantung pada filsafat itu, janganlah hidup ini digantungkan oleh filsafat, filsafat itu produk akal dan akal itu belum diketahui jelas identitasnya.
3.      Ukuran Kebenaran Pengetahuan Filsafat
Pengetahuan filsafat ialah pengetahuan yang logis tidak empiris. Meksudnya adalah menjelaskan kebenaran filsafat ialah logis tidaknya pengetahuan itu. Bila logis maka benar, bila tidak logis maka salah. Ada hal yang patut diingat bahwa tidak boleh menuntut bukti empiris untuk membuktikan kebenaran filsafat. Karena pengetahuan filsafat adalah logis dan logis, sedangkan yang logis dan empiris adalah pengetahuan sain. Ukuran logisnya adalah dapat dilihat dari argumen. Bobot teori filsafat justru terletak pada kekuatan argumen.

C.    Aksiologi Pengetahuan Filsafat
1.      Kegunaan Pengetahuan Filsafat
Apa kegunaan filsafat? Tidak setiap orang perlu mengetahui apa itu filsafat, namun orang yang merasa perlu mengetahui filsafat akan berpartisipasi dalam pembangunan dunia melalui filsafat. Untuk mengetahui kegunaan filsafat, kita dapat memulai dengan melihat filsafat sebagai tiga hal. Pertama, filsafat sebagai kumpulan teori filsafat. Kedua, filsafat sebagai metode pemecahan masalah. Ketiga, filsafat sebagai pandangan hidup.
Yang amat penting juga adalah filsafat sebagai methodology, yaitu cara memecahkan masalah yang dihadapi. Filsafat sebagai pandangan hidup.sebagai contoh presiden di Amerika Serikat telah mengaku melakukan zina, namun ia tetap mendapatkan dukungan. Namun apa yang terjadi di Indonesia, tentu ia akan dicopot dari masa jabatannya. Itulah yang disebut sebagai pandangan hidup, karena pandangan hidup setiap masyarakat berbeda. Filsafat sebagai philosophy of life sama dengan agama, sama halnya dengan mempengaruhi sifat penganutnya.
Penggunaan filsafat bagi akidah. Akidah dalam islam mengatur cara berkeyakinan. Pusatnya ialah keyakinan terhadap Tuhannya. Karena akidah merupakan pondasi penting secara keseluruhan. Keterangan seperti ini juga berlaku bagi agama selain islam. Karena kedudukan akidah seperti itu, maka akidah seorang muslim haruslah kuat agar keislamannya menyeluruh. Untuk memperkuat akidah diperlukan cara-cara. Pertama, mengamalkan keseluruhan ajaran islam. Kedua, mempertajam pengertian ajaran islam. Jadi akidah dapat diperkuat dengan pengalaman dan pemahaman ajaran islam.
Kegunaan filsafat bagi hukum. Istilah hukum islami sering rancu. Kadang-kadang dikatakan sebagai hukum syari’ah dan juga fikih. Fikih secara bahasa artinya mengetahui. Al quran menggunakan kata fikih dalam pengertian memahami atau paham. Butir-butir aturan dan ketentuan hukum yang ada pada fikih pada garis besarnya ada tiga unsur pokok. Pertama, perintah seperti shalat, zakat puasa, dll. Kedua, larangan seperti larangan musyrik, zina, dll.

2.      Cara Filsafat Menyelesaikan Masalah
Kegunaan filsafat sebagai methodology maksudnya sebagai metode dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah bahkan sebagai metode dalam memandang dunia. Dalam contoh, di sebuah desa sering terjadi pencurian dan dengan adanya kejadian tersebut maka warga desa setuju untuk melakukan ronda malam untuk meminimalisir kasus pencurian. Namun ada seorang yang berpendapat lain, ia mencari tahu barang apa yang dicuri, bulan apa  dan pada pukul berapa biasanya terjadi. Aka ia mengusulkan selain menggiatkan ronda, juga digiatkan pengajian. Ia melakukan identifikasi terlebih dahulu, lantas ia melihat penyebab lebih mendasar. Ia pikir bila orang yang meronda bermoral buruk, maka bisa-bisa peronda tersebut yang mencuri. Ini pengetahuan sain, dalam pengetahuan filsafat pun memiliki cara penyelesaian masalahnya senddiri.

BAB IV
PENGETAHUAN MISTIK

A.    Ontologi Pengetahuan Mistik
1.      Hakikat Pengetahuan Mistik
Mistik adalah pengetahuan yang tidak rasional, ini pengertian yang umum. Adapun pengertian mistik bila dikaitkan dengan agama adalah pengetahuan (ajaran atau keyakinan) tentang Tuhan yang diperoleh melalui meditasi atau latihan spiritual, bebas ketergantungan pada indera dan rasio. Pengetahuan mistik adalah pengetahuan yang tidak dapat dipahami oleh rasio, maksudnya hubungan sebab akibat yang terjadi tidak dapat dipahami rasio. Pengetahuan ini kadang-kadang memiliki bukti empiris tetapi kebanyakan tidak dapat dibuktikan secara empiris.
Dalam islam, yang termasuk pengetahuan mistik adalah pengetahuan yang diperoleh melalui jalan tasawuf. Kekebalan juga termasuk pengetahuan mistik karena tidak dapat diterangkan melalui logika sebab akibat. Orang dapat kebal karena latihan tertentu dan bekerjanya hasil latihan itu tidak dapat dipahami oleh rasio dan pengetahuan (kekebalan) ini tidak dapat dibuktikan secara empiris. Pengetahuan mistik sebenarnya pengetahuan yang bersifat mistik ialah pengetahuan yang supra-rasional tetapi kadang-kadang memiliki bukti empiris.

2.      Struktur Pengetahuan Mistik
Dilihat dari segi sifatnya, mistik dibagi menjadi. Pertama, mistik biasa adalah mistik tanpa kekuatan tertentu. Jika dalam islam disebut juga tasawuf. Kedua, mistik magis adalah mistik yang mengandung kekuatan tertentu dan biasanya bertujuan untuk sesuatu. Mistik magis juga terbagi menjadi magis putih dan magis hitam. Mistik magis putih dalam islam contohnya adalah mukjizat, karamah, ilmu hikmah, sedangkan mistik magis hitam adalah santet dan sebagainya yang menginduk sihir, bahkan boleh jadi mistik magis hitam itu dapat disebut sebagai sihir saja.
Orang menganggap mistik magis putih itu berasal dari langit (Yahudi, Nasrani, Islam) serta menggunakan wirid dan doa, sedangkan mistik magis hitam berasal dari luar agama itu dan menggunakan mantera, jampi yang keduanya pada segi praktik sama. Kesamaan keduanya juga terdapat pada material atau benda-benda yang diyakini memiliki kekuatan supra-natural.

B.     Epistemologi Pengetahuan Mistik
Bagaimana pengetahuan mistik diperoleh? Objek empiris dapat diketahui oleh sain, objek abstrak-rasional dapat diketahui filsafat, sisanya yaitu yang abstrak supra-rasional, diketahui dengan apa? Dengan mistik. Pengetahuan mistik adalah pngetahuan yang diperoleh tidak melalui indera dan bukan melalui rasio. Pengetahuan ini diperoleh melalui rasa, melalui hati, juga adalah alat mengetahui.
1.      Objek Pengetahuan Mistik
Yang menjadi objek mistik adalah objek yang abstrak supra-rasional, seperti alam gaib termasuk Tuhan, malaikat, surga, neraka, jin, dll. Termasuk objek yang dapat diketahui melalui pengetahuan mistik ialah objek yang tidak dapat dipahami oleh rasio, seperti kebal, pelet, santet dan penggunaan jin.

2.      Cara Memperoleh Pengetahuan Mistik
Bagaimana memperoleh pengetahuan mistik? Diatas sudah dikatakan bahwa pengetahuan mistik diperoleh melalui rasa. Immanuel Kant mengatakan itu melalui moral, ada yang mengatakan itu melalui intuisi ada juga yang mengatakan itu melalui insight, Al Ghazali mengatakan melalui dhamir atau qalbu.
Pada umumnya cara memperoleh pengetahuan mistik adalah latihan yang disebut juga riyadhah. Maksudnya manusia memperoleh pencerahan, memperoleh pengetahuan yang salam tasawuf disebut ma’rifah. Pengetahuan lain, antara lain kebal. Bagaimana cara memperolehnya? Umumnya latihan itu adalah latihan batin. Pelet dan santet diperoleh juga dengan metode yang sama. Dapatlah disimpulkan sekalipun kasar bahwa epistemologi pengetahuan mistik adalah pelatihan batin.
3.      Ukuran Kebenaran Pengetahuan Mistik
Kebenaran mistik diukur dengan berbagai ukuran. Bila pengetahuan mistik itu berasal dari Tuhan, maka ukurannya ialah teks Tuhan yang menyebutkan demikian. Tatkala Tuhan dalam al quran mengatakan bahwa surga dan neraka itu ada, maka teks itulah yang menjadi bukti bahwa pernyataan itu benar dan juga harus dilandasi dengan kepercayaan. Jadi, segala sesuatu dianggap benar karena kita mempercayainya. Satu-satunya tanda bahwa pengetahuan itu dianggap mistik adalah jika kita dapat menjelaskan hubungan sebab akibat yang ada dalam sesuatu kejadian mistik.

C.    Aksiologi Pengetahuan Mistik
1.      Kegunaan Pengetahuan Mistik
Mustahil pengetahuan mistik mendapat pengikut yang begitu banyak dan berkembang sedemikian pesat bila tidak ada gunanya. Kegunaannya dapat mencakup area yang sangat luas. Pengetahuan mistik sifatnya subjektif dan yang mengetahui kegunaannya hanya pemiliknya. Secara kasar kita mengetahui bahwa mistik putih digunakan untuk kebaikan sedangkan mistik hitam digunakan untuk kejahatan. Dikalangan sufi (pengetahuan mistik biasa) digunakan untuk menentramkan jiwa mereka, mereka bahkan menemukan kenikmatan luar biasa tatkala berjumpa dengan kekasihnya (Tuhan). Pengetahuan mereka sering dapat menyelesaikan persoalan yang tidak dapat diselesaikan oleh sain dan filsafat.
Namun penggunaan mistik-mistik ini semakin tergeser dengan produk modern. Pelet tergeser dengan pelet Jepang alias uang, kekebalan tergeser dengan senjata barat, sebab tidak ada orang kebal dengan rudal. Agaknya pengetahuan mistik akan terseleksi sesuai dengan kebutuhan dan keadaan zaman sedangkan mistik yang dapat membawa ketenangan batin akan bertahan dan semakin dicari orang.
Untuk dapat membedakan mistik magis itu hitam atau putih, kita dapat melihat dari segi ontologi, epistemologi dan aksiologinya. Bila pada ontologi terdapat hal-hal yang berlainan dengan kebaikan disebut dengan magis hitam. Bila dar cara memperolehnya atau epistemologinya ada yang berlawanan dengan kebaikan maka akan mengatakan bahwa itu juga merupakan magis hitam. Bila dalam penggunaan atau aksiologinya untuk kejahatan maka dapat disebut dengan magis hitam.

2.      Cara Pengetahuan Mistik menyelesaikan Masalah
Pengetahuan mistik menyelesaikan masalah tidak melalui proses inderawi dan tidak juga melalui proses rasio dan itu tidak berlaku untuk mistik putih maupun hitam. Hampir seluruh manusia di dunia mengakui adanya kehidupan mistik, termasuk jenis-jenis mistik yang mengandung kekuatan magis.
Islam, sebagai agama yang memiliki nilai-nilai  universal bagi kehidupan manusia sebenarnya telah memberi jalan yang cukup jelas mengenai keberadaan mistik yang gaib itu. Tampaknya, pengetahuan mistik selain terpengaruh dari pengetahuan dari luar, juga terpengaruh dari pengetahuan dan pengalaman spiritual mereka sendiri. Dengan demikian pada perkembangan selanjutnya dunia mistik magis islam terbagi menjadi dua kelompok, pertama dalam bentuk wirid, termasuk menggunakan ayat al quran. Kedua, mistik magis dalam bentuk benda-benda yang telah diformulasikan sedemikian rupa yang biasanya berupa wafaq-wafaq atau isim-isim tertentu.



MUKASYAFAH
Mukasyafah adalah salah satu contoh pengetahuan mistik, ini termasuk mistik putih. Pengetahuan mukasyafah diawali oleh asumsi dan kesadaran tentang adanya kesatuan esensial secara asasi antara subjek-objek, yaitu Manusia-Tuhan. Pengetahuan mukasyafah berpijak pada asumsi bahwa Allah itu ada dan selain ada juga. Pengetahuan mukasyafah diperoleh melalui pengalaman langsung. Tuhan berupa objek pengetahuan yang secara aktif menyatakan dirinya. Dari situ diterima pengetahuan oleh subjek. Wujud keaktifan Tuhan oleh objek ialah dalam bentuk pewahyuan dan dalam rahasia alam ciptaan-Nya. Penampakan Tuhan pada alam dan wakyu, secara epistemologis masih memerlukan instrumen dan potensi inderawi dan rasio, agar mencapai kesadaran dan pengetahuan tentang Tuhan.

ILMU LADUNI
Ilmu laduni ialah ilmu batiniah yang bukan merupakan hasil pemikiran, ilmu laduni adalah ilmu yang diterima langsung melalui ilham, iluminasi atau inspirasi dari sisi Tuhan. Seperti pada contoh Nabi Musa dengan Nabi Khidir, pada saat itu Nabi Khidir melubangi perahu dan nabi Musa tidak mengetahui alasannya, Nabi Khidir membunuh seorang pemuda dan Nabi Musa masih tidak mengerti apa alasannya. Namun alsan mengapa Nabi Khidir melakukan itu semua dikarenakan ia telah mengetahui apa-apa sedangkan Nabi Musa tidak, hal tersebut dikarenakan Nabi Khidir telah memperoleh ilmu laduni.
Dalam cerita diatas dapat disimpulkan bahwa tuhan memberikan ilmu laduni kepada nabi yang dikehendakinya, namun sekalipun demikian ilmu laduni dapat juga dimiliki oleh orang selain Nabi dan Rasul dengan syarat orang itu telah mencapai maqam itu. Berdasarkan sejarah ternyata ada orang (bukan Nabi maupun Rasul) mampu mencapai maqam itu dan ia memiliki ilmu laduni.

SAEFI
Ilmu saefi sangat terkenal dikalangan pesantren. Kita sring mendengar saefi angin, air dan lainnya. Dalam bahasa arab berarti pedang. Kata ini dipakai mungkin karena pedang itu tajam. Dalam segi terminologi saefi adalah nama ilmu yang terdiri dari rentetan bacaan menurut bilangan dan waktu tertentu yang disandarkan kepada Allah. Dilihat dari segi substansinya saefi adalah doa yang dibaca terus-menerus atau berulang-ulang menurut bilangan dan waktu tertentu sehingga nilai doa itu akan memiliki ketajaman seperti tajamnya pedang yang diasah berulang kali. Doa yang tajam disini maksudnya adalah doa yang cepat dikabulkan Tuhan. Berikut ini merupakan macam saefi :
1.      Saefi dzulfaqar, pengetahuan ini apabila orang yang memilikinya maka ia akan berwibawa.
2.      Saefi mughni, menyebabkan pemilik atau pengamalnya mendadak kaya.
3.      Saefi umum, apabila diamalkan maka apapun yang diinginkan akan mudah tercapai.
4.      Saefi antazaman, dapat menyelamatkan orang dari pengaruh negatif arus zaman.

JANGJAWOKAN
Ditatar sunda, istilah jangjawokan masih dikenal masyarakat. Masih ada juga sebagian masyarakat mempelajarinya dan juga mengajarkannya serta masih ada yang menggunakannya. Jangjawokan adalah semacam ucapan untuk tujuan magis tertentu. Jangjawokan adalah bahasa sunda, disebut juga sebagai jampi dalam bahasa jawa yang merupakan semacam ucapan yang bacaannya campuran antara bahasa Arab, bahasa sunda, bahasa jawa. Isi kalimatnya sama dengan mantera, ia biasanya disusun dalam bentuk syair. Asal-usul jangjawokan tidak jelas dan dari mana serta siapa yang mula-mula mengajarkannya. Uniknya adalah hampir disetiap daerah di Indonesia (mungkin juga ditempat lain) terdapat jangjawokan dengan istilah bermacam-macam dan isi kalimat materanya yang berbeda-beda menurut daerah masing-masing. Tidak juga dapat dipahami mengapa untuk tujuan tertentu digunakan kalimat tertentu dengan persyaratan tertentu pula. Cerita diatas merupakan cerita jangjawokan dalam daerah sunda. Berikut jangjawokan yang menjelaskan selain bacaannya juga kegunaannya :
1.      Asihan Nabi Yusuf, kegunaannya agar dicintai perempuan.
2.      Asihan perorangan, kegunaannya adalah mempertebal cinta kasih yang sudah lama retak.
3.      Penyembuhan bisul, kegunaannya agar bisul cepat sembuh.
4.      Penyembuhan sakit ulu angen, kegunaannya agar sakit cepat sembuh.
5.      Memandikan orang yang mempunyai tanda.
6.      Memberantas hama wereng, kegunaannya adalah agar dikasihi orang (pembesar), agar dicintai (seperti pelet), untuk menyembuhkan penyakit, agar disegani atau ditakuti, dll.

Komentar