Mutiara Putih dalam Lumpur


Persaingan dalam dunia pendidikan tampaknya menjadi masalah yang serius untuk ditanggapi. Banyak orang berlomba-lomba dalam memilih sekolah atau lembaga pendidikan untuk dijadikannya sebagai tempat bekerja. Rata-rata mengapa orang mau bekerja di tempat yang mudah diakses dari berbagai jalur, baik jalur perjalanannya, jalur fasilitasnya dan berbagai jalur lainnya yang menunjang. Mengapa mereka tidak mau mengabdikan dirinya di sekolah-sekolah terpencil yang terdapat di pelosok daerah yang hampir tidak tersentuh oleh pemerintah. Padahal tujuan dari pendidikan adalah untuk mencerdaskan anak bangsa. Apakah anak-anak yang terdapat di pelosok daerah bukan anak bangsa? Sehingga membuat para tenaga pendidik lebih memfokuskan dirinya hanya di kota-kota besar.

Menjadi guru merupakan pekerjaan yang mulia, karena ia membagi pengetahuannya kepada generasi penerus bangsa yang nantinya akan menggantikan posisi yang telah dicapai oleh orang-orang pada saat ini. Menjadi guru juga merupakan hal yang sulit, karena guru harus mencerminkan perilaku yang baik dihadapan murid-muridnya, guru harus bertindak hati-hati karena apa yang dilakukannya akan dicontoh oleh anak didiknya. Menjadi guru merupakan tanggung jawab yang besar pula karena ia harus menjadikan anak didiknya cerdas, minimal sesuai dengan tujuan yang hendak dicapainya.

Bagai mutiara, itulah pernyataan yang sesuai dengan guru di negeri ini. Jika ia ikhlas mengabdikan dirinya demi mendidik anak bangsa di daerah-daerah terpencil, ia bagaikan mutiara putih yang bersinar didalam lumpur. Seperti lumpur yang sulit untuk dipijak, maka seperti itulah makna daerah terpencil bagi seorang guru. Namun pekerjaan ikhlas yang ditempuhnya membuat martabat guru semakin bersinar dimata masyarakat dan akan menjadikan dirinya lebih bermartabat. Sungguh mulia para guru yang rela mengajar anak didik di daerah-daerah terpencil, terbayang bagaimana ia harus melewati berbagai medan yang sulit untuk mencapai sekolah, tidak terdapatnya fasilitas seperti sarana dan prasana di sekolah, ruang sekolah yang tidak kondusif dan masih banyak lagi yang lainnya.

Kemauan dari dalam diri itu yang membuat kita semua terhenyak dan memang seperti itulah seharusnya menjadi guru. Mau ditempatkan dimana saja karena hakikat seorang guru adalah mengajar, mendidik dan membimbing peserta didiknya agar menjadi cerdas sesuai dengan tujuan nasional. Guru yang mengajar di daerah-daerah terpencil akan merasa sangat bahagia jika anak didiknya dapat mengerti apa yang diajarkannya, minimal sesuai dengan tujuan yang hendak dicapainya. Karena minim bagi masyarakat terpencil untuk dapat dengan mudah mengakses pendidikan. Sehingga akan lebih sulit untuk mengajarkan mereka yang sedari kecil tidak diajarkan apa-apa oleh orang tua mereka yang juga buta pendidikan.

Untuk itu,  sangat dibutuhkannya guru di daerah-daerah yang sangat mebutuhkan karena, memang disana masyarakatnya masih minim pengetahuan dan jika tidak ada guru di daerah yang kritis tersebut, tentu mau menjadi apa bangsa ini. Hanya terdapat anak cerdas dikota-koota besar sedangkan di daerah-daerah terpencil tidak ada.  Itu akan mendiskriminasikan satu daerah dan tidak tercapainya tujuan pendidikan nasional. Juga, sebagai clon lulusan baru, jangan takut jika ditempatkan untuk mengajar ditempat yang terpencil, karena kembali lagi kepada pengertian guru. Yaitu, tenaga pendidik yang ditugaskan untuk mendidik peserta didik. Didalam pengertian tersebut tidak ada istilah untuk mendidik hanya di kota-kota besar, namun hanya terdapat istilah guru sebagai tenaga pendidim yang artinya tugas guru adalah sebagai pendidik. Tidak peduli ia ditempatkan di derah mana, karena tugasnya adalah untuk mendidik. Semangat guru Indonesia.

Komentar