Belajar Dari Binatang


Belajar merupakan sebuah transfer ilmu pengetahuan dari seseorang ke orang yang lain dengan tujuan ogar orang yang belajar tersebut mengalami perubahan dalam bentuk pengetahuannya bertambah atau berkembang. Untuk itu, dalam bentuk apapun kita dapat dikatakan belajar, karena belajar pada hakikatnya adalah menjadi tahu setelah diadakannya proses pembelajaran. Belajar bisa diperoleh dari guru, buku, lingkungan, pengalaman bahkan binatang. Kita bahkan bisa saja tidak sadar sedang melakukan pembelajaran, yang nantinya akan membuat kita bertambahnya ilmu pengetahuan.

Seperti salah satu contoh belajar dari binatang yaitu, seperti kisah anak Adam yang bernama Habil dan Qabil. Hawa selalu memiliki anak kembar berbeda jenis kelamin sehingga Allah memerintahkan Adam untuk menikahkan anaknya yang berbeda kembaran. Habil kembar dengan saudara perempuannya yang kurang menarik sedangkan Qabil kembar dengan saudara kembarnya yang cantik lagi bercahaya. Singkat cerita, Qabil tidak ingin menikah dengan saudara Habil karena kurang menarik, sedangkan Adam sudah memasangkan kedua putranya untuk menikah dengan yang bukan kembarannya. Qabil tidak setuju karena ia merasa yang paling tua dan ia berhak menikahi saudara kembarnya sendiri. Untuk itu ia membunuh Habil dengan benda tajam dan tidak melakukan apa-apa setelahnya, sampai ia melihat burung gagak menggali-gali bumi untuk mengubur jasad Habil. Qabil yang melihatnya merasa celaka karena tidak bisa melakukan apa yang dilakukan oleh burung gagak tersebut untuk menguburkan saudaranya.

Dari cerita diatas, jelaslah bahwa belajar bukan hanya didapat dari guru yang menjelaskan suatu materi kepada kita sehingga kita mendapatkan suatu pengertian setelah ia menjelaskannya kepada kita, namun belajar dapat didapat dari hal-hal yang bahkan tidak kita sadari bahwa sebenarnya kiita telah melakukan proses pembelajaran.

Dalam contoh lainnya, hidup juga dapat diambil dari binatang lainnya seperti semut. Mengapa semut? Karena, walaupun ia kecil, ia dapat membawa beban berat 50 kali dari beban tubuhnya. Sangat hebat bukan? Lalu mengapa manusia yang diberikan ilmu serta fisik yang sempurna berdasarkan kegunaanya, tidak dapat belajar dari semut yang mampu membawa beban berat bahkan sampai 50 kali dari berat tubuhnya sendiri. Yang dilakukan manusia hanya bermalas-malasan, tidak mau berusaha dan hal-hal lainnya yang tidak dapat membuat dirinya sendiri berkembang. Kita harus contoh semut, yang kecil tetapi kuat karena ia bekerja keras demi terciptanya tujuan yang ingin dicapainya. Tidak seperti manusia yang sudah diberi fisik serta pikiran yang sempuna, namun masih saja seringkali putus asa dan tidak mau bekerja keras, cepat merasa lelah.

Komentar